Monday, May 11, 2009

cerpen asal-asalan 'sedia payung sebelum hujan'

Jakarta, Halte Ratu Plaza-Trans BSD (Ratu Plaza-BSD), 11 May 2009

yes!
hujan lagi.
setelah sekian lama Jakarta terlalu panas, akhirnya hujan juga. Dan bukan sekedar rintik, tapi deras.
Dengan cepat aku masuk rumah, mengambil payung dan berlari keluar, ikut berkumpul bersama teman- temanku, bersiap menuju halte serta mall- mall terdekat.
Ini nih enaknya tinggal di Jakarta, orang- orangnya kreatif. Ngga perlu punya sepeda motor atau sepeda ontel, punya payung pun bisa dijadikan ojek. Yaaa, tentu saja bukan aku atau payungku yang dinaiki, bisa patah payung kesayanganku ini, lagipula badan sekecilku kuat angkat siapa?
Kembali ke hari yang hujan. Di luar rumah sudah ada agil, bocel, imron, muti, dan ona. Berteriak- teriak memanggil namaku.
"Ridho! Ridho!" teriak mereka nyaris berbarengan seperti paduan suara sambil menenteng sendal jepit di tangan kanan dan mengepit payung di tangan kiri. Meloncat- loncat seperti cacing kena debu. Entah kesenengan atau mencoba menghilangkan dingin. Kalau aku sih sudah jelas. Tiap hujan aku kesenengan kalau kena air hujan.
Sambil ikut berlompatan, aku menghambur ke arah mereka dan berlari- lari sambil tertawa, melangkahkan kaki kurus dan langkah kecil kami ke salah satu plaza dekat rumahku. Ratu Plaza namanya. Mungkin dalam nya megah sekali, jadi diberi nama Ratu Plaza, tapi ya aku tak tau juga sih, orang aku ngga pernah nge-mol alias ngga pernah masuk mall.
Di depan ratu plaza, ada halte busway, tinggal tunggu di ujung tangga penyebrangan, buka payung, nyengir ramah, minimal tujuh ribu rupiah masuk kantong. lumayan lah buat beli ciki.
Seperti hari- hari biasanya, kami menentukan siapa bos nya, hari ini giliran Agil. Sebenernya itu sih buat seru- seru an kita aja, ngerasa in jadi bos sehari, kapan lagi?
Hari ini aku kebagian di pinggir halte bersama muti dan agil. disini paling enak, paling teduh, dan paling banyak pelanggan. ternyata di sana sudah banyak ojek payung lainnya, ada yang kukenal, ada juga yang tidak kukenal, maklum, kerjaan ojek payung mulai jadi kerjaan yang digemari anak- anak pinggiran seperti kami.
Ahh... disana ada Bang Japri.
"udah dapet berapa bang hari ini?" tanya ku pada bang Japri.
"gue juga baru turun 'Dho!" ujarnya, lalu melanjutkan "Bapak lo mana 'Dho? Kaga ngojek?"
aku menggeleng.
Bapak tidak seperti diriku yang suka jadi ojek payung supaya punya alasan buat main hujan, sakit dan esoknya bolos sekolah. Bapak tidak suka berdiri dalam hujan, mayungin orang lain sedangkan diri sendiri kehujanan.
"Dingin!" kata Bapak di sela- sela gemeletuk gigi dan batuk. Ah, tapi bukan Bapak namanya kalau tak riang. Karena dingin dan gemetar, Bapak lalu menggerak- gerakkan tubuhnya seolah berjoget, pamer senyum kemana- mana, bahkan sempat- sempatnya melontarkan lelucon kepada ku, Agil, bang Japri maupun yang lainnya.
"Bapak ni suka sekali ya joget- joget ajak orang ketawa..." pernah sekali aku bertanya
"Badan boleh kedinginan 'Dho. Tapi hati musti hangat. Ketawa sama teman kan bikin suasana hati nyaman, sakit juga ngga mau deket- deket..." jawab Bapak.
Aku yang ngga pernah baca buku bagus aja tau kalau kata- kata Bapak itu adalah kalimat paling bijak dari buku manapun.
Pelanggan pertamaku muncul. Seorang bapak- bapak tua dengan kacamata berpakaian kemeja lengan panjang rapih. begitu necis, pasti takut baju nya kena rintik hujan.
Dengan sopan aku menyodorkan payung sambil tersenyum ramah. Diraihnya payungku, lalu berjalan.
aku?
yaaaaaaa ngintil di belakang si bapak sambil merasakan hujan yang pelan- pelan bikin diri tambah basah.
Dari semua jenis orang, aku paling suka ibu- ibu berjilbab atau lelaki muda berpakaian tak begitu rapih karena biasanya aku dibolehkannya ikut berpayung.
lalu dengan senyum teduh si ibu menyerahkan dua lembar uang seribuan sambil berkata 'ditabung ya nak..."
atau untuk kasus si kakak lelaki, biasanya mereka berkata "jangan dipake macem- macem lo tong!" dengan wajah serius tapi ramah.
Kembali ke si bapak yang kini mengeluarkan tiga lembar seribuan lusuh dan menyerahkannya kepadaku.
Di ujung halte, aku kembali tersenyum, buka payung dan mengajak Agil mengobrol, "Untung yah Gil orang- orang Jakarta ini masih banyak yang ngga dengerin ibu guru nya...."
"He? maksudnya?" tanya Agil bingung.
"iyaa... coba kalo semua orang dengerin ibu guru waktu ngomong 'sedia payung sebelum hujan', pasti ngga ada ojek payung kan Gil?"
nampaknya ucapanku begitu lucu di telinga Agil, Muti dan Bang Japri yang sekarang malah tertawa terbahak sampai- sampai bang Japri keselek asep rokoknya sendiri.
Aku jadi ikutan ketawa liat Bang Japri batuk- batuk, sampai lupa ngojek.
"Sampe dalem berapa dek?" Seorang ibu bertanya menyadarkanku.
"Tiga ribu bu..." jawabku.



-cerpen asal-asalan hasil nunggu trans bsd ditengah hujan-

14 comments:

Anonymous said...

haha..feels warm by reading this..ridho ridho..g kira ridho romaaa..hahkahka... cerita yg sangat sosial yah..=D

s said...

whooaaaa.. oke reii!!!! aku suka deh cara kamu memilih vocab2nya.. rasanya pas pas pas! hkahak. sukak endingnyaaaaaaa. lu ga brusaha maksa buat tuh ending jd extraordinary ato glamour gimana gitu. tp jatohnya pas lah!

[rei] said...

aweee..thanks both of you....
saya baru sekali bikin cerpen nih...
jadi yaaaaa butuh komentarnya bangett!hhahaha!

je said...

uww uww uww..
lu suka ridho roma?
ewww ewww ewww..
anw,nice dear :)

[rei] said...

jeez!!!!
si banda bulu mengerikan itu?eww!tidak lah!
tengsss!

winniE said...

hahahahaa..ridho nya roma irama?wkwkwk
biar kataa bandar buLu gt..
punya karisma itu bandar..haha

certa nya bagus re..
ringaN...
n sangat merakyat..haha
trus buat cerpen lah kaU..haha

[rei] said...

kenapa jadi pada ngomentarin nama si "ridho" sih?
padahal gue berpikir nama "ridho" itu gara2 artinya yang 'merelakan' something2 like that laaa...

baidewei,tengs yah winn!

aLdi said...
This comment has been removed by the author.
aLdi said...

Find my Comment in Here

[rei] said...

jawaban dari komen si abang
"wahahaha...
lu tau ga kenapa gue bisa bilang soal si ibu2 brjilbab? soalnya emang bener di sebelah gue ada ibu2 berjilbab ngomong gitu cong ke tu anak ojek payung. dan emang ada bapak yang joget2 sambil ngojek payung. dan beneran ada anak kecil sambil ngepit payung sambil makan chiki...!(and yeh!chiki masi ada sampe sekarang...)wahaha..
baidewei tengsss koko"

denny said...

hehe....

untung gak diselipin lirik lagunya ...

:P

[rei] said...

memangnya ada lagu judulnya sedia payung sebelum hujan?

vic said...

VICKA LIKES IT
bikin dong yg gt"annya

vic said...

VICKA LIKES IT
bikin dong yg gt"annya

 
Original Layout By Yummy Lolly Layout Modification and Header Design By Reigina Tjahaya